Get to know us better.

From the left : Solcai, Duta, Diti, Acang, Acong, Hilal, and Lilu. Not framed : Padang and Jessie.

Looking Back at Gudskul.

by Ahmad Hilal

Singkat cerita mengawali kelas di awal bulan September, saat itu kami masih berjumlah 9 orang diantaranya Jessica, Solcai, Achang, Acong, Duta, Lilu, Diti, Padang, dan saya sendiri. Proses kelas dimulai jam 10 pagi, jam yang masih pagi, bagi saya pada itu, dan tentu dari teman-teman lainnya, akhirnya setelah diskusi dengan KS jam berpindah ke jam 1 siang. Aktivitas kelas pada masa awal di gudskul belum kondusif, karena saya membandingkan strukturnya dengan kelas ketika shortcourse. Beberapa subjek pilihan yang disediakan, salah satunya kelas artikulasi dan kurasi yang harusnya diisi oleh Barto hanya berjalan dua pertemuan saja, dengan skype pada pertemuan pertamanya, dan Barto memang waktu itu sudah menetap di Jepang, jadi beberapa pertemuan dialihkan ke Gesya dan Ampyang pada akhirnya, namun menurut saya itu cukup terlambat juga karena pertemuan intens itu baru terjadi di bulan Februari 2020 dan setiap hari. Harusnya itu terjadi pada pertemuan awal, walaupun metodenya bisa disiasati nantinya. Hal ini juga salah satunya yang membuat saya merasa malas dalam mengikuti kelas. Karena merasa ini masih dalam tahap mencoba-coba metode ajar dan terkesan percobaan.


Awalnya kami yang berjumlah 9 orang pun akhirnya hingga saat ini tersisa 5 orang, itu dikarenakan berbagai alasan personal, Jessica pun orang pertama yang terlebih dulu keluar karena telah memilih untuk bekerja kantoran, kemudian disusul oleh achank yang lebih memilih untuk berbisnis kopi di Bandung sebelum akhirnya memutuskan kembali ke kampung halamannya. Padang yang lebih ingin fokus ke bengkel tigadanempat namun tetap memberi support kami, dan terakhir Solcai yang harus kembali menemani orangtuanya yang sedang sakit. Sempat membentuk sebuah kelompok yang bernama PSSDuren, kelompok belajar dan bermain selama di gudskul yang berfokus pada praktik jasa tur kesenian dan kolaborasi bersama seniman, periset, kurator dan lainnya. Melalui Te.Inc kami ingin menawarkan jasa yang dapat membantu dan menunjang kegiatan mereka sehari-hari selama tinggal di Gudskul Ekosistem dan juga untuk memfasilitasi siapapun yang sedang meriset atau mengembangkan sebuah proyek seni di Indonesia.

Long story short, we started the class in early September, at that time we still numbered 9 people including Jessica, Solcai, Achang, Acong, Duta, Lilu, Diti, Padang, and myself. The class process starts at 10 am, the hour is still early, for me at that, and of course from other friends, finally after a discussion with KS the clock moved to 1 pm. Class activities in the early days in gudskul were not yet conducive, because I compared the structure to classes during short courses. Several selected subjects were provided, one of which was the articulation and curation classes which Barto was supposed to fill in only two meetings, with skype at his first meeting, and Barto had indeed settled in Japan at that time, so several meetings were shifted to Gesya and Ampyang in the end, but in my opinion it is quite late too because that intense meeting only takes place in February 2020 and every day. It should have happened at the initial meeting, although the method could be worked around later. This is also one of the things that makes me feel lazy in taking classes. Because they feel this is still in the stage of experimenting with teaching methods and it seems experimental.

Initially there were 9 of us, finally until now there were 5 people left, it was due to various personal reasons, Jessica was the first to leave because she had chosen to work in an office, then followed by Achank who preferred to do coffee business in Bandung before finally decided to return to his hometown. Padang, who wanted to focus on the bengkel tigadanempat but still gave our support, and finally Solcai, who had to go back to accompany his sick parents. Once formed a group called PSSDuren, a study and play group while in Gudskul which focuses on practicing art tour services and collaborations with artists, researchers, curators and others. Through Te.Inc, we want to offer services that can help and support their daily activities while living in Gudskul Ecosystem and also to facilitate anyone who is researching or developing an art project in Indonesia.